Gambaran Besar Dunia Prestasi Sepeda Indonesia dan Tawaran Solusi

Berikut sedikit gambaran sejarah dunia balap sepeda prestasi di Indonesia. Isinya merupakan opini, disertai data, dan fakta tentang dunia Sepeda Indonesia.

Sama-sama tahu, pada masa Orde Baru, kekuasaan, ekonomi, dan (maaf) KKN cenderung sentralistik. Termasuk di dunia sepeda. Meski demikian, jalannya pembinaan prestasi Sepeda Indonesia berjalan efektif. Silahkan ditanyakan kepada atlet yang telah berprestasi masa itu. Entah dari mana sumber dananya, tetapi setiap tim perlu sepeda, hendak balapan keluar, operasional pembinaan, dan lain-lain, ada saja.

Menurut Wahyudi Hidayat, kepala pelatih timnas, “Puncak prestasi Sepeda Indonesia terakhir pada tahun 2001. Setelah itu cenderung menurun.” Pasca reformasi, ISSI (Ikatan Sport Sepeda Indonesia) tak lagi sendirian. Komunitas sepeda di luar prestasi bermunculan. ISSI sebagai federasi sepeda yang secara sah diakui pemerintah dan lembaga dunia sepertinya kurang membenahi diri. Berbenah SDM kepengurusan profesional, penguasaan teknologi informasi, regenerasi tenaga ahli, dll. Ya, kami koreksi habis-habisan diri kami sendiri dengan tak bermaksud menyalahkan pola kepengurusan sebelumnya. Tidak.

Apa buktinya? Kini kita TAK PUNYA International Commissaire (wasit sepeda international). Dengan tak adanya International Commissaire, daya tawar Indonesia sangat kurang bila diadakan pertandingan Internasional, dan knowledge sharing juga stagnan. International Commissaire harus bersertifikat @UCI_cycling, bersekolah di Swiss, dan lulusnya pun tentu tak mudah. Baru tahun ini kepengurusan PB ISSI, bulan Juni lalu mengadakan kursus Commissaire di Jogja. Bagus! Meski baru baru tingkat nasional. Keberadaan International Commissaire baru dari tiap provinsi tersebut diharapkan mampu menjadi penyebar peraturan balap sepeda di daerahnya.

Tak jauh berbeda dengan pelatih. Jujur, bidang ini full scientific, tak mudah, dan tak cukup hanya bermodal kebiasaan. Sepeda Indonesia HANYA PUNYA SATU pelatih dengan spesifikasi dunia (tertinggi), bersertifikat resmi @UCI_cycling, yaitu Wahyudi Hidayat. Dengan minimnya pelatih terdidik, pembinaan atlet Sepeda Indonesia di daerah cenderung stagnan, kurang terprogram dan kurang berkelanjutan. 

Akumulasi dari semua itu, jangankan masyarakat umum, para pesepeda sendiri JARANG yang mengetahui ‘pahlawan-pahlawan’ mereka dari dunia sepeda. Malaysia, yang 12 tahun lalu kita telanjangi, kini telah mampu melahirkan JUARA DUNIA dari cabang Balap Sepeda. Pola pasar juga berubah pasca reformasi. Pemain bermunculan, tapi mayoritas ‘hit and run‘, sementara pembinaan prestasi adalah investasi. Investasi mahal, yang hasilnya merupakan prestasi, nama baik negara di mata dunia. Berapakah nilai nama baik apabila dapat diuangkan?

Sekarang kita tengok kembali data prestasi dunia Sepeda yang baru saja dikeluarkan @UCI_cycling di web mereka. Di cabang sprint 200 meter DUNIA, benua Asia diwakili oleh Jepang (19-20) dan Malaysia (24). Di mana Indonesia? Entah…

Di Tour Asia, Indonesia di posisi ke-9, dengan @AimanCahyadi16 sbg penyumbang point terbanyak.

Hingga sekarang, cabang Balap Sepeda Indonesia baru mampu bicara di tingkat Asia. Nilai positif ada di Downhill. Peran komunitas sangat besar mencetak atlet-atlet baru dengan sering mengadakan lomba. SALUT!

Kemarin kami bertemu salah satu pemilik sebuah merk sepeda besar di Indonesia. Sayang, mereka saja kurang terinformasikan tentang bagaimana kejuaraan yang mereka adakan bisa meningkatkan point bagi Indonesia. Ya, ini salah kami, federasi.

Terlewat. Tentang jumlah pelatih, bulan lalu PB ISSI telah mengadakan pelatihan bagi pelatih Sepeda Indonesia di Manado. Meski baru dasar, pelatihan tersebut bagus! Dengan begitu sedikit demi sedikit pemahaman tentang bersepeda tak lagi berdasar kebiasaan, tapi didikan.

Sekarang mengarah ke solusi meningkatkan prestasi Sepeda Indonesia di tingkat dunia. Kami ulangi, tawaran solusi ini bersifat opini. Contoh: Di Asia Road Tour yang diadakan pada bulan Mei, total poin Indonesia 31. Kini meningkat menjadi 158. Peningkatan signifikan itu berasal dari @tourdesingkarak & Kejurnas ISSI bulan lalu. Kita harus sesering mungkin mengadakan kejuaraan! Di seluruh genre sepeda! Tetapi harus resmi terdaftar di federasi, dan UCI.

Upgrade kemampuan SDM federasi, baik di PB, maupun di pengprov agar bisa mengikuti perkembangan zaman yang tak lagi konvensional. Federasi (ISSI) tak bisa melakukannya sendiri, harus ada peran teman-teman di luar dunia prestasi, pemerintah, media, agar tak timpang. Ironis, penjualan sepeda dan peminat meningkat, berbagai merk dunia bermunculan, tapi prestasi Sepeda di Indonesia malah berjalan hampir stagnan. Bagi klub-klub sepeda yang memiliki atlet, daftarkan ke pengprov ISSI masing-masing daerah agar tercatat resmi dan program kerja bisa diseragamkan. Mengapa ini perlu? Karena federasi sepeda dunia hanya mengakui satu saja federasi di tiap negara. Di Indonesia, ya ISSI. Agar bila klub-nya ikut kejuaraan di luar negeri, hasilnya bisa meningkatkan poin bagi atlet tersebut dan Negara.

Silahkan datangi ISSI di daerah masing-masing, tawarkan bantuan. Bisa dengan membuatkan website, materi informasi dan promosi atau apa saja. Atau sebaliknya. Di Jakarta saja, dari sekian banyak klub sepeda, kami hanya menerima 2 (dua) pendaftar resmi, yaitu Milagro dan @KFCINDONESIA.

PB maupun Pengprov harus sesegera mungkin berbenah diri, terutama dalam profesionalitas SDM dan mau membuka diri. Contoh teknis, di road, kita setidaknya perlu ada 2 (dua) Tim Continental agar bisa diundang di berbagai Kejuaraan Internasional.

Kejuaraan apa saja yang berhak diikuti maksimal 15 kali per tahun? Berikut kalender Asia Tour.

MTB (DH, XC, 4X), BMX, Track, juga sama saja. Apa tujuannya dengan sering mengikuti kejuaraan? Poin bagi negara & latih tanding! Sedikit demi sedikit kenali dunia prestasi. Kegiatan bersepeda lainnya jadikan selingan saja. Ini demi Sepeda Indonesia di mata dunia.

Sedikit kita berbicara perbandingan angka antara event prestasi Sepeda Indonesia dan di luar itu. Funbike, bermodalkan 300 juta Rupiah, dihadiri sekitar 5.000 orang, dan hanya 3 jam saja pelaksanaannya. Dengan uang sejumlah itu, kita bisa membina 1 (satu) tim selama FULL setahun, dan dilihat ratusan ribu orang. Darimana angka “dilihat ratusan ribu orang” tersebut? Misal, 1 tim latihan 100km/jam, dilihat 1.000 orang per hari di jalanan. Kalikan saja pertahun. Isn’t it a good business number? Dalam sehari sekitar 1.000 orang di jalanan melihat brand sponsor yang digunakan di Jersey tim Sepeda Indonesia.

Kembali, banyak cara yang bisa digunakan sebagai alat untuk meningkatkan prestasi Sepeda Indonesia di tingkat dunia, tapi peningkatan prestasi Sepeda Indonesia ini tak mungkin kami lakukan sendiri. Perlu partisipasi dari teman-teman, Pemda, swasta, dan media. Demi Indonesia.

Semoga tentang Sepeda Indonesia dapat menjadi masukan dan lantas dipelajari teman-teman semuanya. Terima kasih.

Tambahan :
Penyelenggaraan Sprint Open Championship adalah salah satu upaya kami agar dunia Sepeda Indonesia khususnya prestasi kembali menggeliat. Kontes Desain Jersey juga salah satu upaya kami mengajak semua untuk peduli peningkatan prestasi Sepeda Indonesia.

Advertisements