Criterium Piala Infanteri 2015, Sebuah Lomba ‘Tak Sengaja’

Latar Belakang

Tak kami kira Panglima Divisi Infanteri 1, Bapak Mayjen Sudirman, begitu serius menyimak paparan yang kami sajikan. Paparan sederhana pada 4 Desember 2015 di ruang pertemuan Divisi 1 Kostrad, Cilodong, mengenai gambaran umum dunia sepeda di Indonesia, strategis, taktis, teknis, dan korelasinya dengan Infanteri, Kostrad, TNI dan masyarakat Indonesia kemarin, hari ini dan untuk tahun-tahun mendatang.

Sebelumnya, jajaran perwira Divisi 1 sudah akan menggelar funbike sebagai salah satu acara memeriahkan HUT Divisi ke-50, sekaligus Hari Juang Kartika ke-70 . Sudah begitu lumrah, fun bike merupakan kegiatan bersepeda yang lebih dikenal masyarakat dibanding kegiatan berbasis kompetisi. Kami hanya memaparkan seobyektif mungkin mengenai funbike yang notabene sudah terlalu biasa dan kurang memiliki manfaat jangka panjang. Sekadar kegiatan bersepeda santai yang dilakukan oleh ribuan orang menggunakan seragam yang sama, disajikan hiburan, pembagian hadiah, lalu bubar jalan. Dijelaskan sebentar pun, masyarakat awam akan paham dan sanggup menggelar. Ketika kami bandingkan dengan berbagai jenis perlombaan di berbagai genre, dengan penekanan kepada Criterium, Panglima tampak antusias, “Kalau begitu, funbike kita tiadakan. Kita fokuskan ke Criterium. Benar, saya setuju, ini lebih sejalan dengan jiwa Infanteri.” Beberapa perwira yang hadir di tengah paparan tak memiliki jawaban selain, “SIAP!”

Para perwira saling bertatapan satu sama lain. Rencana yang telah mereka siapkan begitu matang, funbike, seketika gugur. Namun hal tersebut sudah biasa dalam dunia militer. Mereka hanya memiliki dua jawaban atas satu perintah, “Siap, ya!” dan “Siap, tidak!” tak ada alasan untuk dipertanyakan kecuali diminta. Bergerak berdasar perintah, bergerak tak berdasar perintah berarti melanggar prosedur, melanggar prosedur adalah kriminal dan menolak perintah berarti desersi.

“Tepat seperti yang dikatakan Bapak Panglima TNI dan  Bapak Panglima Divisi, tadi. Indonesia tengah memasuki era perang proxy. Serangan dilakukan dari berbagai penjuru, tanpa senjata, dengan memanfaatkan berbagai komponen Bangsa ini, sementara mayoritas pelakunya tak sadar tengah dimanfaatkan demi kepentingan negara-negara lain. Yang paling ditakutkan oleh negara lain, bukan militernya, karena perang fisik saat ini cukup dengan duduk di depan komputer dan menekan tombol, lalu…BOOM! Musnah. Yang paling ditakutkan oleh negara lain yaitu ketika militer begitu dekat dengan rakyat tanpa sekat. Toh kami juga bagian dari rakyat. Di pundak kalian inilah masa depan Bangsa dipertaruhkan. Di pundak para pemuda! Ajak semua komponen bersatu dengan sepeda sebagai alatnya!” dijelaskan ulang oleh Bapak Kolonel (Inf) Dwi Suharjo kepada kami, usai paparan di depan Panglima Divisi.

Bang Dwi, begitu kami biasa memanggilnya, aktif dalam struktural kepengurusan ISSI Jakarta di sela-sela jabatan utamanya sebagai Asisten Intelejen di Divisi 1 Kostrad. Dalam pertemuan terpisah, Kepala Staf Divisi, Bapak Brigjen (TNI) Agus Rohman, mengutarakan hal yang sama. Penekananya pada, “jangan biarkan Bangsa ini hancur terpecah-pecah.”

Bola kemudian berada di tangan kami, ISSI Jakarta. Tak beda dengan para perwira di sekitar Panglima, kami yang akhirnya bergantian saling bertatapan. Bagaimana tidak, formatur kepengurusan periode 2015-2019 baru tiga bulan terbentuk. Satu sama lain belum saling mengenal, baik karakter pribadi maupun kemampuan. Kegiatan harus terlaksaksana di rentang waktu antara 15 hingga 20 Desember dalam upaya turut meramaikan perayaan Hari Juang Kartika ke-70 dan HUT Divisi 1 ke-50. Sementara itu, persetujuan Panglima Divisi baru didapatkan pada… 4 Desember 2015!

Perintah sudah jelas. Tujuan telah diletakkan. “Siap!” telah dipekikkan! Mustahil mundur! Apapun risikonya, tujuan harus tercapai. Betapa malu rasanya kalau plintat-plintut menyisakan ruang abu-abu antara “Siap, Ya!” dan “Siap, Tidak!”

Pra Kegiatan

Penentuan Tanggal dan Koordinasi

Kalender lomba skala nasional selama Desember 2015 kami gelar. Beberapa tanggal di rentang antara 15 hingga 20 Desember kami coret jika terdapat lomba sejenis. Hanya tersisa satu tanggal: 19 Desember. Di tanggal itu pun selang dua-tiga hari kemudian baru kami sadari, terdapat  lomba yang sama. Di Tegal! Digelar oleh Bapak-bapak dari TNI AL, bedanya: dilakukan malam hari. “Tak apa. Pasukan kita bagi-bagi saja di dua titik ini. Wilayah barat ke CIlodong, sementara wilayah tengah dan timur merapat ke Tegal. Keduanya harus diramaikan, dan tak boleh saling mengalahkan” kurang lebih itu kesepakatan internal kami.

Tak kurang dari 15 kali pertemuan dilakukan, baik di internal ISSI DKI, maupun koordinasi antara ISSI DKI dengan para perwira di Divisi 1. Bisa dibayangkan kondisinya: Formatur ISSI baru dibentuk dan pihak Divisi belum pernah terlibat dalam ‘tempur taktis’ acara sejenis. Dua karakter kerja digabungkan menjadi satu: formatur ISSI yang didominasi anak muda, cenderung ‘selengean’, informal dan militer yang terlatih ketat berkoordinasi dan bersidiplin tinggi. Tak mudah.

Mengingat Velodrome Rawamangun terlalu jauh bagi kami yang rata-rata tinggal di daerah Selatan Jakarta, Mas Dito, sapaan kami bagi Ketua Umum ISSI Jakarta, Dito Ariotedjo, sengaja membuka satu Mako (Markas Komando) baru di bilangan Kemang. Hari pertama ditempati, langsung digunakan hingga tengah malam.

Dari sekian banyak formatur kepengurusan baru, di bawah ‘kompor’ Mas Dito, hanya Rama, Dima dan Novian yang terlibat aktif. Lainnya mungkin tengah disibukkan dengan urusan masing-masing. Bagusnya, kawan-kawan kami ini berusaha di sektor swasta, sehingga waktu luang bisa dikondisikan. Selain itu, usia rata-ratanya masih tergolong muda: di bawah 30 tahun. Semangat dan idealismenya masih kental.

Mawar Pajouw, desainer merangkap pengantar paket bersepeda yang tergabung dalam West Messenger yang dimotori Hendi dengan telaten mendesain semua materi publikasi. Awalnya agak gentar ketika tahu bahwa kegiatan ini merupakan kerjasama dengan militer. Itulah persepsi mayoritas anak muda saat ini terhadap kekuatan militernya sendiri. Takut, watir dan sejenisnya.

Pendaftaran, Publikasi dan Dokumentasi

Pendaftaran dibuka dua cara: offline dan online. Beecy Coffee memberikan bantuan dengan mempersilakan tempatnya digunakan sebagai tempat menaruh formulir pendaftaran. Terus terang saja kami tak berharap banyak dari pendaftaran offline, dan benar, hingga H-2 tak sampai 20 pendaftar.

Mas Dede, seorang arsitek yang dua anaknya merupakan atlet muda BMX, membantu memperkuat urusan koordinasi administratif, database pendaftaran dan konsep dasar, termasuk membantu melengkapi Manual Race.

Hingga H-1, jumlah pendaftar online melebihi harapan: lebih dari 200 pendaftaran kami terima dari berbagai daerah di Indonesia. Itu belum termasuk pendaftar langsung di hari-H, yang diperkirakan lebih dari 500 peserta!

Dalam aturan resmi perlombaan, pendaftaran langsung di hari-H sebetulnya sangat tidak mungkin. Bagaimana tidak, koordinasi langsung dengan atlet dan team harus dilakukan setidaknya H-1, membahas kesepakatan peraturan perlombaan. Mengingat tujuan utama penyelenggaraan perlombaan ini adalah pengenalan dunia sepeda kompetisi kepada internal TNI, maka beberapa prosedur baku terpaksa kami coret.

Terkait publikasi, web lama ISSI DKI berbasis wordpress, seatsjakarta.wordpress.com yang telah lebih dari dua tahun sengaja didiamkan, dibuka kembali sebagai pusat informasi dan domain issijakarta.org diaktifkan. Publikasi lantas dilakukan sporadis melalui akun media social masing-masing.

Seorang kawan akhirnya merekomendasikan seorang kawan lama untuk membantu publikasi, Dhonie Bima Setiawan. Dhonie telah malang melintang di dunia sepeda seluruh genre, juga di komunitas dan prestasi. Dhonie tak sendiri, atas saran Mas Dito, Kak Mesty Ariotedjo akhirnya bersedia turun tangan membantu menghubungi kawan-kawan media, tak ketinggalan Novian Herbowo juga akhirnya aktif melibatkan diri.

Gilang, seorang pesepeda yang telah lebih dari 10 tahun kami kenal dan saat ini aktif di Men’s Health bahkan sempat kami ‘ancam’, “Mas Gilang. Anakmu kan rajin latihan BMX. Kalau tak mau membantu, anakmu akan kami coret dari setiap perlombaan dan dilarang main di velodome,” lalu disambut Gilang dengan tawa terbahak. Itulah komunikasi khas yang selama ini melanggengkan pertemanan kami.

Kantor Berita Antara pernah membantu kami 2012 lalu. Bersama, kami melakukan regenerasi atlet ISSI DKI yang dikemas dalam bentuk Selekda. Namun karena istilah tersebut terkesan jadul, akhirnya diusunglah SeAts yang merupakan kependekan dari (Seleksi Atlet Balap Sepeda). Sama saja prinsipnya, hanya istilah saja yang diganti. Di Criterium Piala Infanteri kali ini, Antara kembali menurunkan personilnya.

Kurang dari lima hari menjelang lomba, Divisi 1 mengirimkan nota dinas undangan kepada kesatuan lintas matra, darat, laut, udara dan tak lupa kepolisian. Terdengar kabar, dari Angkatan Laut saja akan mengirimkan 100 peserta, belum lagi Angkatan Darat dengan kekuatan lebih dari 400. Jika dijumlahkan, dari kedua itu saja sudah terkumpul 700 peserta. TUJUH RATUS.

 

Wasit Pertandingan

Wasit merupakan bagian krusial. Thomas Syafei tak bisa diharapkan terlalu banyak karena tengah sakit. Inu Febiana meski paham, tak mungkin bertindak sebagai wasit karena telah didapuk sebagai Race Director, yang berarti bertanggungjawab terhadap seluruh aspek perlombaan, dari awal hingga akhir. Kami memasuki masa-masa genting di menit-menit terakhir. Beruntung, Pak Wahyudi mengabarkan mengenai keberadaan seorang wasit, yakni Pratomo Setyadi, biasa dipanggil Tomo.

Tomo merupakan wasit balap sepeda berspesifikasi Nasional Elite yang mengambil kursus di Malaysia. Dalam dunia balap sepeda, wasit terbagi menjadi tiga tingkat: Wasit National, Wasit Nasional Elite dan Wasit Internasional. Untuk lomba sekelas Piala Infanteri, setidaknya diperlukan wasit sekelas Tomo untuk memimpin.

Pembawaannya tenang,  berpengalaman terlibat di berbagai balapan baik di dalam maupun di luar negeri. Tomo antusias. Begitu ditelfon, besoknya kami langsung melakukan rapat koordinasi di Cilodong bersama beberapa perwira Divisi 1.

Saat itu juga beberapa poin di Manual Race diubah, terutama mengenai peraturan pertandingan. Semula kami rencanakan menggunakan pola criterium, namun akhirnya lebih memilih bentuk Circuit Race. Criterium memerlukan banyak wasit berpengalaman dalam menghitung poin, sementara wasit berpengalaman saat itu hanya Selly dan Jeje. Selly baru bisa dating di hari-H, dan Jeje masih perlu jam terbang lebih banyak untuk paham.

judge1

Tomo memutuskan memanggil salah seorang wasit dari Jabar untuk membantu, yakni Maulana. Sebanyak 16 prajurit Divisi 1 dipilih, H-1 diberikan pelatihan singkat dan langsung melakukan gladi bersih. Semua antusias karena ini merupakan pengalaman baru bagi mereka. Tomo yang berprofesi sebagai dosen tehnik mesin di salah satu universitas Di Jakarta, tak menemui kendala berarti ketika dihadapkan situasi sedemikian krusial. Namun ketika diinformasikan bahwa peserta akan mencapai lebih dari 700, Tomo sempat menggeleng, “sejauh pengalaman saya mengikuti berbagai pertandingan di dalam dan di luar negeri, jumlah peserta terbanyak ada di kisaran 300”

“Gimana, berani, lanjut, Mas Tomo?” Tanya kami.

“Kenapa tidak? Lanjutkan!” dijawab Tomo tanpa sedikitpun gurat ragu.

Produksi, siap; publikasi dan dokumentasi, siap; Wasit, siap; SEMUA, SIAP!

Hari Pelaksanaan

Hujan lumayan deras mengguyur Cilodong sejak tengah malam 19 Desember 2015, perlahan reda menjelang pagi, lalu berhenti sama sekali usai Subuh.

hujan

Di bawah rintik hujan di tengah kegelapan, beberapa prajurit dengan senyap merayap menaiki tiang-tiang menara. Di menara pintu masuk utama tersebut akan dibentangkan sebuah spanduk lebar. Spanduk utama Criterium Piala Infanteri.

Penginapan bagi tim produksi yang disediakan Divisi 1 di area Taipur hanya digunakan beberapa jam saja, karena proses pemasangan barikade lintasan baru selesai menjelang pagi, dan usai subuh semua sudah harus bergerak menyelesikan sisa-sisa pekerjaan.

Sinar matahari perlahan muncul. Hujan semalam menyapu pasir-pasir di sepanjang lintasan, sekaligus menyisakan sedikit genangan di lintasan yang mayoritas menggunakan area upacara Divisi 1. Genangan tersebut tak dibiarkan. Beberapa personil tampak mengeringkan. Jalanan aspal yang semula bolong di beberapa titik telah rapi teraspal. Cepat dan terorganisir sekali cara bekerja para prajurit TNI ini. Salut.

Kesibukan di bagian logistik yang dipusatkan di Guest Room Divisi 1, telah berlangsung sejak sehari sebelumnya. Kebutuhan makanan bagi seluruh peserta dan panitia, awalnya hanya disiapkan 350 saja, membengkak menjadi 700, lantas 1000! Mas Dito telah komit “jangan sampai satupun panitia dan peserta kehausan apalagi kelaparan selama perlombaan. Pokoknya jangan sampai terjadi!” perintahnya, diamini Rama Danindro sebagai Ketua Pelaksana.

Meja registrasi sejak pukul 6 pagi telah mulai dipenuhi calon peserta, meski jadwal pembukaan kami tetapkan pukul 7 pagi. Panitia registrasi sempat gentar dikerubuti 700 calon peserta yang kebanyakan berasal dari prajurit TNI. Itu tak berlangsung lama karena sebentar kemudian alur telah terbentuk.

trackinspect

Tepat pukul 8 pagi seluruh peserta rapi berbaris di lapangan untuk mengikuti seremonial yang kami perpendek menjadi: menyanyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan Panglima Divisi Infanteri Divisi 1 dan sambutan Ketua Umum ISSI Jakarta. Acara kemudian dilanjutkan kepada inspeksi terakhir lintasan dengan bersepeda, dipimpin langsung oleh Panglima Divisi dan diikuti seluruh peserta.

Perlombaan

Sterilisasi lintasan di sepanjang 1200 meter dilakukan oleh kekuatan lebih dari 100 prajurit. Kami terapkan ZERO fatal accident, baik bagi peserta maupun penonton. Posko medis beserta tenaga medis yang berpengalaman di berbagai medan pertempuran, kami sebar di tiga titik, juga disiagakan tiga unit ambulans. CLEAR!

Satu demi satu dari 9 kelas dilepas. Kelas-kelas pertama, bendera start sempat dikibarkan oleh Panglima Divisi, para perwira, disaksikan Ketum PB ISSI, Bapak Raja Sapta Oktohari, dan tamu undangan lainnya.

Khusus bagi kelas Women Open, kami memang sengaja tidak memisahkan antara kelas junior dan senior. Bukan karena pertimbangan sedikit-banyaknya peserta, tapi memberikan kesempatan kepada para atlet muda agar bisa mempelajari taktik bertanding dari para senior mereka, langsung di lintasan yang sama. Jika dilihat sepintas dari sudut fairness, memang tak adil menyatukan Uyun Muzizah, Santia Tri Kusuma dalam satu kelas dengan adik-adik mereka, namun pengenalan taktik ini kami anggap jauh lebih penting, karena kemenangan tidak hanya diraih bermodal kekuatan, tapi juga kecerdikan, siasat dan… tipu muslihat.

Unjuk taktik perlombaan terlihat jelas di kelas ini. ISSI DKI Jakarta yang menurunkan tiga puteri, yakni Uyun, Santia dan Mutia tampak mendominasi permainan. Mutia dibiarkan melambung sendirian di depan, sementara kecepatan pengejar dikontrol ketat oleh Uyun dan Santia. Mudah ditebak akhirnya DKI menggondol habis seluruh podium juara.

*

Kelas bagi pecinta fixed gear juga sengaja kami buka, agar kawan-kawan yang kebanyakan berusia remaja ini bertahap bisa beradaptasi dalam sebuah perlombaan dengan peraturan ketat. Selain itu tentu saja pembinaan berkelanjutan, jika saja beberapa dari mereka kami lihat memiliki bakat.

elite

Tak kalah seru kelas Men Open. Merupakan kelas paling ditunggu dari semua kelas yang dilombakan. Atlet nasional jawara Asia asal Indonesia bertebaran di arena. Atlet Puslatda Jawa Timur bahkan menurunkan pasukan terbaiknya. Di lintasan berkelok sepanjang tak lebih dari 1200 meter, Fatahillah Abdullah, Eko, Rully Ibnu, Tuko, yang dikenal sebagai peraih medali di berbagai ajang bergengsi saling unjuk gigi. Di ajang internasional, mereka selalu ditugaskan mengibarkan Merah Putih di tiang tertinggi.

Total 21 putaran, tak sampai 25 kilometer memang terlalu pendek bagi mereka, namun jika dihitung jumlah kelokan tajam yang harus mereka taklukan, lintasan ini menyakitkan. Bagaimana tak menyakitkan, di lintasan terdapat 7 tikungan tajam. Jika peserta harus menyelesaikan 21 putaran, berarti 147 tikungan. Menjelang tikungan, kecepatan diperlambat, lalu kembali menghentak pedal memacu kecepatan. Sederhananya, peserta menghentak 147 kali dan itu belum termasuk break away!

Rully Ibu Farokha dari ISSI DKI beberapa putaran sempat memimpin di depan, namun jatuh di kelokan tajam dan tak bisa menyelesaikan lomba hingga akhir karena brifter-nya patah. Posisi Rully digantikan rekan satu timnya: Erik, Dhika, Iman, Yudo, Kevin dan Fikri. Selain Iman dan Yudo, empat lainnya merupakan atlet muda yang telah tiga tahun kami latih intens sejak usia 16 tahun dan tahun 2015 merupakan tahun pertama mereka masuk ke jajaran usia senior (U19).

DKI Tim

Fikri rupanya tak mau membiarkan Rully jatuh sendirian. Di tikungan yang sama akhirnya dia juga tergeletak dan dengan cekatan digotong keluar dari lintasan oleh para petugas medis dari Divisi I. Cederanya tak serius, hanya baret tergerus aspal lintasan, namun ototnya sedikit trauma. “Wajar Fikri jatuh. Usianya masih terlalu muda untuk mahir di tikungan. Wajar juga kalau pacarnya nanti ditikung,” seloroh salah seorang prajurit yang bertugas sebagai wasit ketika menyaksikan itu.

luka

Tarik menarik sepanjang lomba. Kanan-kiri lintasan disapu oleh rombongan berkecepatan tinggi. Melihat gelagat ini, berkali MC mengingatkan penonton untuk tak menjorok turun dari trotoar demi mencegah bahaya.

Iman Suparman membuat kejutan. Dia berhasil keluar dari rombongan di putaran-putaran terakhir lantas keluar sebagai juara. Atlet ISSI DKI ini dikenal sebagai salah seorang raja tanjakan yang jarang diperhitungkan. Kiprahnya di lintasan datar tentu tak pernah diperhitungkan oleh para sprinter. Memang sengaja kami sembunyikan hehe…

Akhirnya ISSI DKI kembali menang di kelas Men Open. Atlet-atlet terbaik seperti Ryan Arieehan dan Aiman memang sengaja tidak kami turunkan, karena tengah dipersiapkan untuk lomba lainnya.

*

Kelas Prajurit MTB sangat meriah. Diikuti lebih dari 200 prajurit lintas matra dalam sekali start. Memang sejatinya tak ada kelas MTB di criterium, namun karena tujuan besarnya pengenalan, maka tak kami jadikan persoalan.

prajuritmtb

Kelas Prajurit road menciut menjadi kurang dari 20 peserta saja, padahal peserta terdaftar lebih dari 233. Dari garis start, seorang wasit dari divisi 1 berbisik sambil tersenyum, “kawan-kawan lebih senang menonton, Mas. Lebih seru,” lalu dari pinggir barikade ditimpali “Tak apa. Lanjutkan saja. Peserta kali ini merupakan perwakilan.” Benar juga. Semua masih sempat bercanda di tengah lomba. Situasi begitu cair. Tak ada lagi sekat antara militer dan pesepeda. Ketika itu, semua melebur menjadi satu.

Istilah “Perang Bintang” tak berlebihan ditonjolkan oleh Dhoni. Sesuai perkiraan kami sejak awal, prajurit-prajurit dari pasukan khusus terbaik Indonesia mendominasi lomba. KOPASKA, KOPASSUS, dan Denjaka-yang-entah-sembunyi-di-mana-dan-turun-sebagai-apa. Di area registrasi sempat kami temukan, mendaftar, namun kemudian hilang tak tentu rimba.

kelasprajurit

Harry Rahman dari KOPASKA KOARMABAR memenangi kelas prajurit roadbike dengan mudah, disusul Muhammad Iqbal dari KOPASSUS dan Andika Prasetya dari PUSPOMAD-BCT. Harry sempat dengan sangat santun menanyakan perihal hasil di kelas prajurit MTB, pasalnya pemenang kelas ini, Sandy Krisnandi dari KODAM III Siliwangi menggunakan sepeda jenis hybrid. Namun usai dijelaskan bahwa tujuan strategis dibukanya kelas prajurit ini, yakni pengenalan dengan mengutamakan persatuan, Harry menerima. Di Kelas Prajurit MTB, Harry di posisi dua disusul Andika Prasetya dari PUSPOMAD-BCT.

DITO Ariotedjo 20151228_005712

Dua buah sepeda persembahan dari Polygon yang masih dalam kardus, sengaja kami alokasikan bagi dua jawara di dua kelas prajurit. Melengkapi hadiah uang tunai, medali dan berbagai aksesoris lainnya dari Bagus Bike, Nu Skin, South Box dan Bois Tois. Tak berlebihan, namun sebagai bentuk penghargaan sederhana bagi mereka yang menempatkan kepentingan Bangsa dan Negara di atas segala, termasuk pribadi dan keluarganya tercinta.

SELESAI

Kegiatan Criterium Piala Infanteri usai kami selenggarakan. Sebuah kegiatan sederhana, dipersiapkan dengan waktu amat pendek, berskala nasional dan merupakan lomba yang diikuti peserta terbanyak Di Indonesia selama ini.

Banyak sekali kekurangan di sana-sini, itu pasti, namun semua kami anggap sebagai hal yang wajar terjadi sebagai salah satu proses pembelajaran, toh kegiatan 19 Desember lalu hanya permulaan. 2016 mendatang, jika tak berhalangan, kami akan ‘turun gunung’ menggelar berbagai kegiatan bermanfaat, baik dalam bentuk berbagai lomba dan berbagai pelatihan. Semata demi kualitas generasi Indonesia lebih baik demi menyongsong masa depan. Sederhana, hanya sepeda yang kami gunakan sebagai alatnya.

Atas nama seluruh panitia terlibat, baik dari ISSI DKI Jakarta maupun bapak-bapak dari Divisi I Kostrad, dengan rendah hati, izinkan kami haturkan beribu terima kasih kepada seluruh kawan-kawan se-Indonesia, baik yang terlibat secara langsung maupun tidak; pengurus ISSI Jakarta, PB ISSI, KONI DKI Jakarta, Keluarga besar Divisi I Kostrad, KOSTRAD dan TNI; Kawan-kawan media dan kawan-kawan sponsor. Terpenting, terima kasih atas kesempatan yang diberikan oleh pemilik bumi tempat kami berpijak dan pemilik langit tempat kami bernaung. Tanpa-Mu, apalah daya kami.

***

Disusun oleh: Inu Febiana | Race Director Criterium Piala Infanteri, 19 Desember 2015 | Sekjen ISSI DKI Jakarta 2015-2019

Advertisements