DKI Di PON 2016: MENANG! MENANG! MENANG!

Di Pekan Olahraga Nasional empat tahun lalu, 2012, telah diminta memimpin pasukan balap sepeda ISSI DKI Jakarta, namun urung bergabung karena kesibukan di luar. Beberapa bulan usai pelaksanaan PON tersebut, awal 2013, ISSI DKI Jakarta kami rombak total. Perombakan total yang dilakukan bertahap, berkelanjutan dan masih berjalan hingga kini.

Susunan atlet yang tak berprestasi dengan berat hati kami coret dan yang terbaik dipertahankan.Save the best eliminate the rest! Untuk membangun kembali kekuatan dan sebagai upaya regenerasi, diselenggarakanlah SELEKDA (Seleksi Atlet Daerah) dari usia 16 tahun.

Pelaksanaan SELEKDA awal 2013 yang dikemas dengan gaya kasual, diluar kebiasaan serius pengurus setingkat provinsi lainnya di Indonesia, demi memancing minat anak muda Jakarta. ISTILAH SELEKDA pun kami ‘sembunyikan’ menjadi SeAts. Artinya tak beda, yakni: Seleksi Atlet balap Sepeda. Mengedepankan transparansi pemilihan tanpa sedikitpun nepotisme, didapatlah 12 calon prajurit U16 terbaik, lantas kembali disusutkan menjadi 5.

Kerasnya latihan terprogram di cabang olahraga balap sepeda yang dijalani bertahun-tahun hampir tanpa ini, tak menyisakan sedikitpun ruang bagi kemanjaan, apalagi indisipliner. Lima prajurit hasil SeAts kemudian menyusut kembali menjadi tiga. Namun tak menjadi persoalan karena upaya pembenahan yang kami lakukan rupaya dipantau secara nasional. Beberapa atlet terbaik atas kesadaran sendiri, tanpa diminta akhirnya masuk memperkuat Jakarta. Di antara mereka, yakni Aiman Cahyadi dan Rully Ibnu Faroka.

Skuadron tempur yang baru terbentuk tersebut lantas kami uji di berbagai lomba, salah satunya di Tour de Siak 2013.

Upaya restrukturisasi prestasi yang dilakukan semasa Raja Sapta Oktohari memimpin Jakarta di periode 2010 hingga 2015, kemudian dilanjutkan seorang anak muda, Dito Ariotedjo. Dito memegang komando ISSI Provinsi DKI Jakarta untuk periode 2015 – 2019 sebagai Ketua Umum, sementara Okto memperluas jangkauan pembenahan di tingkat nasional, memimpin Pengurus Besar ISSI, juga sebagai Ketua Umum.

“Atlet dan pelatih kita telah di tingkat dunia, dan syarat utama membenahi organisasi adalah peningkatan kualitas pengurusnya,” ujar Dito. “Knowledge gap,” itulah istilah yang kami usung, istilah yang didapat dari observasi selama lima tahun sebelumnya. Betapa tidak, jajaran pengurus baru didominasi anak muda yang bermodal semangat namun masih perlu jam terbang. Kami sadar, semangat dan sentimental saja tak cukup untuk mewujudkan cita-cita ISSI DKI Jakarta, yakni: MENANG di berbagai lomba tingkat dunia, dan menggunakan sepeda sebagai alat membantu mencetak generasi muda tangguh di segala bidang, agar SIAP dan tak gentar menghadapi segala bentuk tantangan sepelik apapun di kemudian hari.

Bertahap pengetahuan strategis, taktis dan teknis para pelatih dan pengurus ditingkatkan. Proses peningkatan kualitas ini tak kalah sakitnya dengan program latihan yang dijalani para atlet setiap hari, sepanjang tahun! Contohnya Priyo Soesanto, yang semula atlet, berpikir ala atlet, kemudian bertahap menjadi pelatih, berpikir ala pelatih. Sementara sistem kepelatihan kami terapkan bukan lagi berdasar kebiasaan, apalagi dogmatis, tapi bertahap menuju 100 persen scientific! Priyo yang sejak 2013 kami daulat menjadi pelatih pemula dan junior, bertahap mulai menunjukkan hasil. Hampir semua anak didiknya selalu berdiri tegak di podium juara. Disamping itu juga dia mendampingi pelatihan Puguh Admadi. Hal ini tak lepas dari tangan dingin seorang Wahyudi Hidayat yang mendidik Priyo.

Wahyudi merupakan satu-satunya pelatih balap sepeda dengan spesifikasi tertinggi di Indonesia dan melalui program pelatihannya, berkali-kali menjadikan Indonesia sebagai juara. Tugasnya TAK PERNAH GAGAL. Di usia dini dan pemula, program makro Wahyudi di-mikro-kan oleh Priyo dan di tingkat ELITE, diaplikasikan oleh Endang. Di samping itu, beberapa calon pelatih baru telah kami siapkan.

Belum lagi pelatihan tingkat manajerial bagi para calon manajer tim. Standar yang kami terapkan begitu tinggi, karena, lagi, kami tak mau bekerja berdasar kebiasaan, namun WAJIB paham secara holistik yang merupakan ciri masyarakat terdidik. Tahapannya tak boleh dilewati agar pahamnya mendalam: memimpin di tingkat nasional, internasional, barulah memimpin atas nama provinsi, kemudian atas nama Negara.

Balap sepeda tak jauh berbeda dengan pertempuran, karenanya seorang manajer yang bertugas memimpin pasukan, wajib paham banyak bidang. Geopolitik, agar paham benar posisi Indonesia di antara Negara-negara lain dan sanggup mengukur kekuatan serta kelemahan mereka, biomekanika, bioenergetika, anatomi, psikologi, keuangan, serta banyak aspek lainnya. Untuk memahami pengetahuan setingkat perwira tersebut, atau bahkan lebih, tak sembarangan kami mengambil rujukan dan arahan ahli. Beruntungnya kami diperkuat salah seorang pengurus ISSI DKI yang terlibat begitu aktif memberikan wejangan di sela-sela kesibukannya sebagai Asintel di Divisi I Kostrad, yakni Kolonel Inf Dwi Suharjo.

Dalam upaya pembenahan selama lebih dari lima tahun terakhir, telinga seringkali kami tulikan menerima berbagai hujatan, cibiran, gunjingan dan bisikan pesimistis. Energi akan habis jika hal seperti itu dipersoalkan. Bisa dibayangkan, Endang dan Wahyudi contohnya, cerita mengenai mereka bedua di luar sangat tak enak, bahkan di kalangan pesepeda sendiri.  Kami berusaha tetap obyektif demi keutuhan organisasi, mengingat balap sepeda merupakan cabang terukur presisi, sebaiknya berbagai argumentasi keberatan yang diajukanpun WAJIB terukur, tanpa menyertakan like and dislike apalagi politis.

Kami sepakat, jikapun ada yang sanggup lebih baik dari Wahyudi sebagai pelatih, berani membuktikan melalui paparan ilmiah, sanggup ajukan bukti keberhasilan dan tak gentar memberi jaminan kemenangan, saat itu juga Wahyudi kami ganti, atau setidaknya kami ajak serta memperkuat barisan. Tak beda dengan jajaran atlet, demi memberikan kesempatan kepada seluruh warga Jakarta, jikapun ada pesepeda Jakarta yang sanggup mengalahkan kekuatan atlet yang telah kami susun, mari bertempur bersama.

Berangkat dari titah Dito Ariotedjo sebagai Ketua Umum, “sasaran ISSI DKI Jakarta itu juara dunia, namun PON 2016 juga jangan dianggap main-main. Pemilihan atlet, pelatih dan manajer juga tak bisa berdasar arisan, tapi WAJIB teruji melewati tahapan demi tahapan dan pembuktian keberhasilan.” Jakarta, dengan rendah hati, inilah susunan tim balap sepeda yang akan mewakilimu di PON September 2016 mendatang. Setulus hati kami berharap doa dan dukungan. Sekuat tenaga dan seluruh kemampuan kami kerahkan, agar nama baikmu terjaga dengan memberikan sebuah bukti sederhana: MENANG!

***

Penulis: Inu Febiana, Tim Manajer ISSI DKI Jakarta untuk PON 2016.

screenshot_2016-02-26-03-34-31_com-adobe-reader_14564324983371

 

Advertisements