News

“LAPOR! SeAts Seri 1 SELESAI!”

Jersey Champion

Sekitar pertengahan November 2012 lalu Pak Thomas terlihat agak sibuk di kantor ISSI Jakarta. Di mejanya bertumpuk kertas dan berbagai dokumen lain.

“Sedang apa pak?” Tanya salah seorang dari kami

“Ini lagi mendaftar anak-anak”

“Anak-anak siapa? Buat apa?”

“Mau tau aja, apa mau tau banget?” Kata Pak Thomas bergaya ABG masa kini.

“Hahaha…”

“Ini, Jakarta kan atlit lapis duanya sudah gak ada. Sementara elite kita (Uyun, Ryan, dan Santia) tak bisa selamanya diandalkan sebagai juara”

“Oh, bagus dong. Terus sudah diinformasikan ke mana aja?”

“Ya…, seperti biasa, dari mulut ke mulut”

“Lho? Cuma dari mulut ke mulut?”

“Iya, abisnya gimana?”

“Kan sayang pak, pesepeda di Jakarta sangat banyak. Kalau mereka di kasih tau pasti banyak yang mau ikut”

“Iya juga sih. Yaudah, yuk jalanin”

Saat itu langsung diputuskan dengan cepat, bahwa Jakarta akan melakukan seleksi atlit muda lapis II secara terbuka.
Demi mengusung transparansi dan memberi kesempatan yang lain terlebih dahulu, akhirnya kami mencoba mengajak beberapa kawan sepeda di luar prestasi untuk melaksanakan kegiatan ini. Konsep sudah disusun detail, sudah pula dipresentasikan sampai habis.

Konsep awalnya hendak menggabungkan antara prestasi dan ‘pesta’. Pagi hingga sore kita menggelar seleksi, malamnya sedikit seremonial, dilanjut balapan liar seperti di jalan-jalan atau track MTB, tapi ini diselenggarakan di velodrome. Waktu berjalan, satu minggu, dua minggu, tiga minggu tanpa perkembangan. Tak sepatah kata pun keluar kalau tak ditanya terlebih dahulu. Sementara target pelaksanaan kian dekat. Saat itu kami sepakat mengadakan acara pada bulan Desember sebelum libur Natal.

Ada pula yang berniat membantu, sayang tujuan utamanya adalah keuntungan finansial. “Benar, siapa pun pasti perlu uang, apalagi pembinaan prestasi sepeda yang notabene membutuhkan dana tidak sedikit. Tapi kita sedang ‘babat alas’, baru akan meletakkan pondasi” Tegas Priyo Soesanto. Akhirnya kami putuskan untuk menggelar acara ini sendiri. “Dalam kondisi yang bagaimanapun harus jalan!” Ini semangatnya.

*

“Gimana Pak Okto? Kapan idealnya ini digelar?” Tanya kami ke Pak Raja Sapta Oktohari, ketua umum ISSI Jakarta, sekaligus ketua HIPMI.

“Hhmm… awal tahun aja. Bikin sebagai race paling awal di 2013”

“Bagus juga. Tapi sepertinya akan sulit mencari sponsor karena semua sudah sibuk dengan liburan natal dan tahun baru.”

“Iya juga sih. Tak apa deh. Jalankan! Nanti saya bridging dulu. Yang penting anak-anak muda Jabodetabek harus memiliki kesempatan yang sama. Harus sportif! Jangan ada main belakang sama sekali. Kita jalankan 5 Januari!.” Tegasnya.

Akhirnya kami memberanikan diri jalan. Keputusan ini diambil awal Desember 2012. SeAts seri I akan digelar. Akronim “SeAts” juga diambil secara spontan.Pertimbangannya, kalau mengusung “Selekda” (Seleksi Daerah) bakal terlalu menyeramkan, sementara kita butuh tema populer. Mengapa? Peserta yang akan kita rekrut merupakan remaja usia 13 hingga 18 tahun. Dan istilah-istilah birokratif seperti itu sudah lama tak terdengar di masayarakat umum, terlebih remaja.

SeAts juga bukan tanpa singkatan. Ini bisa dibaca sebagai “Seleksi Atlit Sepeda”. Filosofinya, sebelum berjalan, manusia pasti belajar duduk terlebih dahulu, baru berdiri, dan seterusnya. Ini sejalan dengan prinsip pendidikan yang dilakukan secara bertahap dan tak bisa melompat. Yang akan kami rekrut merupakan pesepeda remaja yang selama ini mayoritas tak mendapat pemahaman bersepeda yang baik secara holistik.

Mas Priyo Mulai Melatih

Semua akhirnya bekerja paralel. Di tengah kesibukan bekerja, Rully menyiapkan berbagai design. Mulai logo, proposal, sticker, bahkan hingga web dia kerjakan sendiri. Pak Thomas membantu urusan pendaftaran, Pak Wahyudi merancang perlombaan dan pembinaan kedepannya. Tapi ada satu yang belum berjalan, tak semua calon peserta paham benar bagaimana peraturan dasar di velodrome. Bagaimana solusinya? Kita buka velodrome dan menggelar latihan bersama.

Mas Agus, seorang atlit Jakarta, sprinter bersedia menjadi pelatih untuk sementara waktu. Kami putuskan latihan bersama digelar tiap Senin, Rabu, dan Jumat jam 1530. Mengapa sore? Karena seluruh calon peserta dipastikan masih sekolah, dan beberapa sudah kuliah. Kami senang, ternyata peminatnya tak sedikit. Banyak dari calon peserta yang mau datang jauh-jauh ke velodrome. Bintaro, Cengkareng, Priok, bahkan Bogor. Meski di tengah hujan badai, tetap saja ada yang datang ke velodrome. Padahal lintasan sama sekali tidak bisa dipergunakan karena sangat licin dan tentu saja membahayakan.

Beberapa kali Mas Agus melatih anak-anak baru. “Jangan terlalu keras Gus, ikuti gaya mereka dulu. Sedikit demi sedikit luruskan bertahap” Pesan Pak Wahyudi. Benar saja, masih banyak kami temui berbagai kesalahan cukup fatal, seperti: Sadel terlalu tinggi, frame terlalu besar, gadget selalu nempel di jersey saat latihan di lintasan, dan lain-lain. Sayang, Mas Agus memiliki kesibukan di luar, dan proses latihan bersama tak berjalan lancar. Ditambah lagi musim hujan, dan lintasan velodrome sangat licin tak bisa dipergunakan.

Melihat kondisi ini Pak Wahyudi langsung memutuskan Mas Priyo sebagai pelatih para calon peserta SeAts. Mas Priyo Soesanto merupakan alit Downhill Jakarta yang telah melalanglangbuana di berbagai kejuaraan nasional dan internasional. Bersama tim pelatih lainnya, Mas Priyo bahkan sempat aktif melatih tim BMX di Malang. Dan…, atlet binaannya berhasil meraih medali emas di Sea Games 2011 lalu.

“Saya tak berani janji dulu apa yang bisa saya berikan” Ujar Mas Priyo di hari pertama melatih. Dia langsung turun ke lapangan, bersepeda bersama para calon peserta, bahkan menguji kekuatan mereka dengan mengukur fast lap setengah lintasan. “Aku pengen tahu peta kekuatan” Ujarnya.

Karena kami anggap kompeten dan konsisten, akhirnya diputuskan Mas Priyo tak hanya melatih, tapi juga bertindak sebagai Race Director di penyelenggaraan SeAts.

Komunikasi dan Panitia Harus Muda

Untuk urusan komunikasi, kami coba hubungi teman-teman. Salah satu diantara mereka memiliki akun twitter yang lama tak aktif. Singkat saja, akhirnya dia bersedia menghibahkan dan diganti dengan @SeAtsjkt. Mengenai kicauan? Tak masalah karena temanya kurang lebih sama, sepeda. Teman-teman di media umum kami hubungi. Rata-rata semua menyambut positif, terlebih Kantor Berita Antara. Teman-teman Antara mendukung penuh karena melihat SeAts sebagai sebuah ajang tak main-main dan dilaksakan oleh anak muda, dengan format tak biasa.

Sungguh, kami tak bermaksud sok merasa jumawa dengan kegiatan kecil seperti ini. Hanya beritikad bekerja seoptimal mungkin selama proses dan semoga membawa angin segar bagi pola kerja ISSI di seluruh Indonesia yang rata-rata dijalankan bukan oleh anak muda.

*

Harus diakui, tak mudah mencari rekan yang sanggup bekerja seirama. Praktis, di awal, hanya satu, dua orang saja dari kami yang bekerja mempersiapkan semuanya. Baru sekitar kurang dari dua minggu sebelum acara, kami minta bantuan teman-teman yang selama ini terbiasa bekerja di lapangan dalam acara sepeda, dan WAJIB main sepeda. Tak sekedar terbiasa bekerja, tapi juga paham apa yang dilakukan.

Mas Virgo, pesepeda yang terbiasa menjalankan berbagai kegiatan alam terbuka, diantaranya team bulding langsung menyatakan kesanggupan saat diminta bantuan. Karena teruji, kami langsung mendaulat dia sebagai event director.

“Silahkan rekrut anak muda yang sudah terbiasa dan tahan banting sebagai panitia. Badannya harus atletis, tak boleh ada yang gendut. Kalau pun perempuan, dia harus juga manis” Pesan kami ke Mas Virgo

“hhmmm paling bisa deh!” jawab Mas Virgo mendengar kata “perempuan manis”

“Lho, realistis saja. Kasihan yang sudah cape balapan kalau harus berhadapan dengan bapak-bapak gendut, mukanya gak enak dilihat, apalagi ditambah bau badan”

“hahahahaha…” kami tertawa lebar.

*

Pendaftaran mulai dibuka, Rully sendirian menyiapkan form versi online. Berbagai kolom data benar-benar dipertimbangkan matang. Contohnya, pendaftar disarankan menyantumkan “asal club/komunitas”. Hal ini bukan tanpa alasan, sedikit demi sedikit kita belajar menghargai sejarah. Teman-teman di club atau komunitas asal mereka pasti sebelumnya telah banyak berperan, minimal memberikan saran dan pelatihan. Hingga, kalau pun berlomba dan mereka juara, club asal dipastikan bangga. Juga nama serta nomor telfon orang tua masing-masing calon peserta. Pak Okto sudah mewanti-wanti, “Yang akan kita akan rekrut adalah remaja yang secara hukum masih dibawah tanggungjawab orang tua. Apa yang kita lakukan harus mendapat izin dari mereka, tak boleh melangkahi”.

Kedepannya, kami rencanakan untuk menjalin komunikasi aktif dengan orang tua para calon atlet yang lolos seleksi. Laporan perkembangan juga rutin akan dikirimkan. “Kita kan sedang membantu mendidik anak-anak mereka, sangat wajar bila mereka mengetahui perkembangan anaknya. Bahkan wajib kita informasikan” Ditambahkan Pak Okto.

Deg-degan

Usai Shalat Jumat, 4 Januari 2013 semua sudah siap. Seluruh panitia yang besoknya akan bekerja sudah berkumpul, karena sorenya jam 18:30 akan digelar technical meeting bagi seluruh calon peserta. Dalam tiap perlombaan tingkat apapun, technical meeting ini wajib. Karena di sini mulai disosialisasikan berbagai peraturan dan sesi tanya jawab, terlebih calon peserta SeAts didominasi anak muda yang belum paham benar mengenai teknis perlombaan.

Sejak Jumat siang Jakarta diguyur hujan. Kondisi ini tak berhenti hingga lewat senja, malam, bahkan tengah malam. Pawang? Ah,kami serahkan saja kepada Dia yang mengatur jalannya semesta. Bila memang panas, ya panas, hujan ya hujan. Sempat khawatir, bagaimana bila hingga Subuh 5 Januari hujan tak juga reda? Dipastikan lintasan Velodrome outdoor akan sangat licin dan acara seleksi tak mungkin diadakan mengingat tingkat bahaya yang begitu tinggi.

Alam sepertinya masih berpihak kepada kami, adzan Subuh membangunkan kami, panitia yang tertidur di atas balkon velodrome berselimut sleeping bag. Tidur tak tidur, paling banyak hanya satu jam. Entah mengapa, nyamuk di velodrome banyak luar biasa. Gesit pula! Hhmm…, mungkin mereka terbiasa berlatih muter-muter di lintasan hehehe…. Pagi itu matahari cerah. Hujan sejak hari sebelumnya membantu membasuh lintasan dari debu. Pantulan sinar pagi tak hanya mengilapkan lintasan yang akan dipergunakan puluhan peserta, tapi juga tentu semangat kami.


Sejak jam enam pagi, satu per satu peserta muncul. Daftar ulang dilakukan, nomor punggung dibagikan. Scruitinize terhadap seluruh sepeda teliti dilakukan Kang Odel dan satu rekan lainnya. Proses ini krusial, yang menggunakan fixed gear agar menggunakan rasio yang telah disetujui, sementara yang menggunakan sepeda jalan raya dikunci gear-nya. Ini dilakukan untuk mengusung sportivitas, karena bila sepeda jalan raya tak dikunci gear-nya, maka mereka lebih diuntunkan.

Tak disangka, ternyata masih ada saja yang melakukan pendaftaran pagi itu, padahal sebelumnya telah kami putuskan bahwa pendaftaran online ditutup. Lagi, kami tak bisa saklek, mereka tetap diberikan kesempatan meski akhirnya kami yang direpotkan dengan proses administratif. Acara sudah akan dimulai, Tante Laksmi sudah memegang mic, tapi ada yang terasa hambar di sini. Maklum, dia sendiri saja. Om Alfa di sudut luar lintasan memperhatikan. Awalnya dia hadir hanya hendak dagang. Saat itu juga kami minta bantuannya membantu Tante Laksmi memimpin acara sebagai MC. Gayung bersambut, Om Alfa setuju.

Om Alfa ini salah satu orang alam di dunia sepeda dan kegiatan alam terbuka. B2W Indonesia saat awal dibangun sempat menumpang di kantornya di bilangan Bangka. Pula, sempat memimpin bidang kegiatan kampanye bersepeda. Jadi, bila sekadar MC, Oom Alfa bisa lakukan itu hampir dengan mata tertutup. Seorang DJ kawan Oom Wahju (salah satu panitia) didatangkan meramaikan acara. Dia bersedia menghibur semua tanpa dibayar sepeserpun. Oom Wahju juga bukan orang baru di dunia sepeda. Awalnya dia sempat ‘iseng’ membangun 1PDN (1Katan Penikmat Djalan Nandjak), dan dibanjiri peminat, hingga berhasil menggelar beberapa kali kejuaraan tanjakan tingkat nasional.

Acara hendak dibuka, Lagu Indonesia Raya sejak semula telah kami wanti-wanti untuk dinyanyikan bersama. Harapannya sederhana, agarsemoga doa kita yang hadir di velodrome pagi itu sama, demi Indonesia, bukan lainnya. Itu pula tujuan awal SeAts digelar. Pagi itu, jarum jam hampir menyentuh angka sembilan pagi, dan lagu Indonesia Raya membahana di Velodrome Rawamangun. Lantang dilantunkan seluruh peserta, panitia, tamu VIP, dan tentu saja penonton.
Pelaksanaan


Satu persatu peserta dilepas berpasangan di sisi kanan kiri lintasan. Sesi pertama adalah kategori A terlebih dahulu. Kategori ini merupakan peserta berusia 13 hingga 15 tahun. Siapa yang tercepat, dia kemudian berhak duduk di Kursi Panas. Begitu peserta berikutnya ternyata memiliki catatan waktu lebih cepat, maka dia berhak menurunkan penghuni kursi panas sebelumnya. Terus menerus begini hingga akhir.

Konsep kursi panas ini jujur saja kami tiru dari pagelaran Down Hill. Tujuannya agar peserta serta penonton terpacu, karena balapan di velodrome biasanya berlangsung agak membosankan. Bagaimana tidak?, sepanjang ada yang sedang melaku di lintasan, tak diperkenankan ada suara berisik, apalagi musik. Terang saja konsep sederhana berupa kursi panas ini cukup mampu memeriahkan suasana. Tak sekali dua kali terdengar teriakan “Turuuun! Turuuuun!” kepada penghuni kursi panas yang ternyata harus turun karena peserta berikutnya memliki catatan waktu lebih cepat.

Seleksi kami lakukan hanya dengan satu kelas saja, Individual Pursuit (IP). Kategori A, harus berputar sebanyak enam kali, sementara kategori B (U16-U18) dan kategori C (umum) wajib menyelesaikan sembilan putaran. Panjang lintasan velodrome Rawamangun 333,333 meter, berapa jauh masing-masing peserta mengayuh pedalnya? Silahkan kalikan sendiri. Sengaja kami pilihkan IP dengan sekali saja kesempatan. “Ini ujian kekuatan sekaligus ketahanan dasar. Peserta bertarung melawan dirinya sendiri. Di sini benar-benar dibuktikan secara kuantitatif dan terbuka karena ditentukan semua. Kami sama sekali tak main kongkalikong.” Ujar Pak Wahyudi. Memang benar, catatan waktu tiap peserta diumumkan secara terbuka, tak mungkin panitia mengubah sedikit pun. Benar-benar transparan.

Matahari semakin terik. Kategori B dan C sengaja kami taruh pertandingkan belakangan karena dipastikan mereka akan melaju lebih cepat dibanding kategori A. Pedih di sekujur kulit tak kami hiraukan. Antusiasnya peserta dan penonton yang berharap cemas sudah lebih dari cukup menghapu kelelaham teman-teman panitia.

Satu demi satu seluruh peserta menyelesaikan perlombaan. Hasil kami kumpulkan, dan giliran tim administratif melakukan sortifikasi hasil berdasar waktu yang diinformasikan time keeper. Untuk mengisi kekosongan, Pak Wahyudi mengusulkan untuk mengadakan permainan terakhir demi mencari siapa yang terbaik. Juara satu dan dua di masing-masing kategori dipertandingkan untuk mendapat juara pertama terbaik; dan juara tiga dan empat lainnya sebagai juara kedua terbaik. Permainan ini memang tak mengubah hasil perlombaan, namun dianggap layak diadakan.

Pak Okto menyetujui mengeluarkan sejumlah uang sebagai hadiah lomba permainan akhir. Semua sudah siap, dan rencananya akan dilakukan usai sesi istirahat. Sayang, langit berkata lain, hujan turun membasahi lintasan. Karena licin, langsung kami putuskan menggagalkan sesi permainan, dan hadiah yang semula diperuntukkan bagi para juara permainan, dialihkan kepada para juara seleksi 1,2, dan 3 di seluruh kategori.

Memang kami tak merencanakan sama sekali memberikan hadiah berupa uang. Ini demi mendidik para peserta agar tak melulu mengejar rupiah. Ada saatnya nanti setelah mereka menjadi juara di nasional dan internasional. Karena siapapun yang lolos SeAts, secara prinsip mereka baru akan dibina menjadi atlit, dan akan kembali dipertandingkan di seri berikutnya. Semata agar kematangan mentalnya terjaga. Hanya 11 jersey yang kami berikan kepada seluruh peserta tercepat, dan satu jersey kuning bagi peserta paling cepat dari dua kategori, A dan B.

Kini giliran seremonial bagi pemenang. Meski sebagian dari mereka telah pulang karena hujan, tapi ini tetap jalan. Jersey bagi pemenang sengaja kami persilahkan dikenakan oleh orang tua, pelatih masing-masing agar terdapat ikatan emosional. Di podium, anak muda tercepat di Jabodetabek ini mengenakan jersey baru, yang semoga seiring waktu dan kesungguhan akan mampu mengantar mereka menjadi manusia-manusia baru. Manusia unggul secara fisik, mental, dan siap bertarung di berbagai ajang kejuaraan, terpenting, siap menghadapi kenyataan dalam kondisi apapun.

Usai hujan reda, lintasan kembali mengering, dan semua telah selesai dilaksanakan. Hari itu Jakarta diwakili penonton yang hadir menjadi saksi sebuah seleksi terbuka, sportif. Selanjutnya seluruh panitia pulang dengan mata sayu kurang tidur; kulit gosong terbakar; namun semua senang telah membantu menghadirkan senyum. Kini, giliran tugas terberat, mencetak para juara baru yang akan membela Jakarta, dan semoga berkesempatan membela Indonesia di kancah dunia, serta senantiasa selalu pulang sebagai juara.


***

‘Babat Alas’ Dimulai!

ISSI Jakarta sempat vakum beberapa tahun, dan penyelenggaraan SeAts diharapkan merupakan pemecah kebuntuan. Tugas lebih berat menanti, mempersiapkan para peserta yang lolos di SeAts seri pertama menjadi atlet sepeda juara. Tim pelatih melakukan sortifikasi pemenang yang akan direkrut sebagai calon atlet Jakarta. Peserta yang berasal dari ISSI daerah lain, seperti Kota Bogor dicoret dari daftar, dan menyisakan 12 terbaik dengan komposisi lima dari kategori A, dan tujuh dari kategori B. Mereka selanjutnya menjadi tim inti. Tim bayangan dibentuk dengan formasi 4-5-2, empat dari kategori A, lima dari kategori B, dan dua dari kategori C. Tim ini sengaja dibentuk sebagai pendamping latihan tim inti. Porsi latihan yang diberikan sama saja dengan tim inti, tak ada beda. Semakin banyak calon juara, toh semakin bagus.

Terus terang kami senang dengan hasil seleksi. Bagi pesepeda yang hampir seluruhnya belum pernah menerima program pelatihan sistematis dan terstruktur, mereka ternyata cukup bagus. “Ini mutiara dalam lumpur” kata Pak Wahyudi, diamini Mas Priyo. Catatan waktu tak bisa dibohongi, itu cukup bagus. Konsolidasi kepada tim inti dan tim bayangan dilakukan. Latihan sudah dimulai, termasuk program makro pelatihan yang disusun Pak Wahyudi dan didetailkan oleh Mas Priyo segera dikeluarkan dan diterapkan. Pembagian regional latihan diberlakukan karena sulit mengharapkan para calon atlet Jakarta setiap hari berkumpul di velodrome. Tempat tinggal menyebar, dan disibukkan oleh sekolah/kuliah. “Harus sejalan antara pelatihan dan prestasi sekolah!” ini pesan Pak Okto yang kami pegang baik-baik.

Pak Okto yang berpengalaman menjadi promotor duo juara dunia Chris John dan Daud Jordan sama sekali tak main-main. Rabu sore, mendadak beliau melakukan inspeksi di tengah hujan ke velodrome. Memantau mes atlet dan menginstruksikan banyak sekali pembenahan dan kelengkapan latihan. “Mimpinya jangan tanggung. Sekarang mungkin kalian bukan siapa-siapa, tapi siapa tahu suatu saat nanti satu diantara kalian akan menjadi juara dunia mengharumkan nama Indonesia. Berprestasi di sekolah, patuhi program yang diberikan pelatih. Perlakuan khusus pasti akan kami berikan kepada para juara, tapi bukan juara kelas kampung saja. Buktikan itu kepada diri kalian masing-masing, saya tunggu di podium juara pada tiap perlombaan” Kata Pak Okto di hadapan para calon atlet usai berlatih sambil duduk bersila di atas lantai balkon velodrome. Rabu sore 9 Januari 2013, hujan sejak semalam menyaksikan ikar kami semua. Semoga terwujud.
Terima Kasih

Terima kasih tiada terhingga kepada seluruh panitia yang terlibat; para orang tua yang mengizinkan anaknya mengikuti seleksi; Kantor Berita Antara dan media lain yang turun menyuarakan meski (mohon maaf) tak sempat kami undang; Bagus Bike atas bantuan berbagai hadiah bagi para pemenang; ID-fixed dan komunitas lainnya; PB ISSI; UPT Jakarta Timur; Petugas kebersihan; dan seluruhnya yang tak mungkin kami sebutkan satu persatu.

Tunggu SeAts seri II, SeAts seri III, dan berbagai ajang perlombaan lain yang dipastikan akan jauh lebih seru!!!.

LAPORAN SELESAI!

Foto: E. Indra Haryandika | @koindra
 

Press Release  (download) :

→ SeAts 2013 Seri 1 – Press Release

Advertisements