Tour de Siak 2013

Tour de Siak 2013

Elite Pengprov ISSI Jakarta di Tour de Siak 2013

Etape I Berakhir Tanpa Senyum

Tim Elite balap sepeda Jakarta komposisi kali ini, baru beberapa bulan terbentuk, dan kesemuanya belum pernah diikutkan berlomba dalam satu tim. Baru kali ini saja, di Tour de Siak 2013.

Ryan Ariehaan, Aiman Cahyadi, dan Rochmad Nugraha telah berbulan-bulan digodok di barak Pelatnas balap sepeda. Bersama pebalap terbaik Indonesia lainnya, mereka tengah dipersiapkan untuk membela Indonesia di Sea Games Desember mendatang. Rully Ibnu Farokha lebih banyak tinggal di Malang, dan Iman Suparman berlatih sendiri di Garut.

Pada Tour de Siak (TdS), 13 hingga 15 September kemarin, Ryan Ariehaan kami tunjuk sebagai kapten, dengan pertimbangan jam terbang pertandingan dan prestasi tingkat internasional lebih tinggi dibanding yang lain. Dia, baik secara individu maupun bersama tim telah berkali menyumbangkan medali emas bagi Indonesia. Selain itu, kematangan, dan tingkat stabilitas emosi yang menjadikannya layak memimpin lainnya.

Pada etape pertama sejauh 115,45 Km, dari Siak ke Sungai Apit, Priyo yang ditunjuk sebagai pelatih dan Inu sebagai tim manager, sepakat untuk melepaskan pilihan strategi dan taktik kepada tim. “Mereka berpengalaman, dan sudah tahu benar apa yang sebaiknya dilakukan” Ujarnya.

Priyo sebelumnya merupakan atlet Downhill Jakarta, dan baru sejak Januari 2013 lalu kami daulat menjadi pelatih tim Junior balap sepeda Jakarta. Dia mengaplikasikan program pelatihan mikro, yang diretas dari program makro hasil rancangan Wahyudi Hidayat, pelatih balap sepeda Jakarta, sekaligus kepala pelatih sepeda nasional.

“Hati-hati, anak-anak harus diingatkan, tingkat percaya diri mereka terlalu tinggi.” Diingatkan Benny Mammoedi, fotografer yang sengaja kami bawa dari Jakarta untuk mendokumentasikan kegiatan ini.

Wajar bila Benny mengingatkan kondisi demikian. Tingkat kepercayaan diri terlalu tinggi bisa menyebabkan penurunan kadar kewaspadaan selama perlombaan. Kondisi ini juga cukup beralasan, karena didasari komposisi kekuatan individu tim Jakarta bisa dikatakan cukup kuat. Ryan dengan pengalaman bertandingnya, Aiman merupakan pebalap terbaik Indonesia di Tour de Singkarak 2013, Rully merupakan sprinter peraih perunggu di Sea Games 2011, Iman spesialis tanjakan, dan Rochmat telah kenyang asam garam berbagai rupa pertandingan.

Kekhawatiran kami ternyata benar. Pada etape pertama TdS yang menempuh jarak 115,45 Km dari Siak ke Sungai Apit, hasil pertandingan tim Jakarta sangat mengecewakan. Di Etape datar ini, dari lima anggota tim, hanya Aiman yang masuk peringkat, itu pun 20 besar individu. Lainnya bertengger di urutan terbawah.

Tak ayal, urutan iring-iringan kendaraan yang semula berada di posisi-9 merosot tajam ke posisi juru kunci, ke-17 dari 18 tim. Kondisi ini akan cukup merepotkan di etape berikutnya bila tim memerlukan supply logistik, atau ada yang bermasalah dengan sepeda mereka.

Praktis tak ada senyum di muka kami, semua tertunduk, tapi semangat tentu saja tak kendur, karena baru etape pertama. Masih ada dua etape mendatang.

Meski balap sepeda jenis tour seperti ini tak selamanya kuantitatif, sulit diprediksi, tapi jelas terdapat kesalahan yang harus segera diperbaiki.

Hasil pertemuan, dan analisa etape pertama TdS kami simpulkan bahwa anakanak Jakarta terlalu percaya diri sejak awal lomba. Mereka terus-menerus berada di barisan depan, dan dengan kekuatannya, cenderung mengatur ritme, sehingga ketika dibutuhkan tenaga ekstra, dan daya ledak menjelang finish, cadangan mereka telah habis. Akhirnya, Tim United Bike Kencana yang didominasi para sprinter terkuat, berhasil merajai podium juara di etape pertama ini.

Projo berhasil memperoleh kaus kuning dan Merah Putih, dengan demikian, dia menyandang status pebalap tercepat secara keseluruhan, termasuk pebalap Indonesia tercepat di etape pertama. Projo tak sendiri, Fatahilah Abdullah menyandang predikat sprinter tercepat, dan berhak atas jersey hijau. Semua itu mereka raih dengan kekuatan tim solid, dan meledakkan seluruh upaya di 10 kilometer terakhir.

Etape II, Redam dan Pendam Ego Pribadi!

Malam sebelum lomba, dan pagi sebelum start, berkali kami ingatkan kepada tim, untuk tak lagi mengandalkan kekuatan individu. Ego pribadi untuk menjadi juara harus diredam, dipendam bila perlu. Tak ada lagi Ryan, Aiman, Rully, Iman, dan Rochmad, yang ada hanyalah TIM. Tak ada sedikit pun ruang bagi toleransi, apalagi mempercayai orang lain, kecuali tim sendiri. Tingkat kewaspadaan ditingkatkan untuk mencari celah agar bisa lari dari rombongan tanpa ketahuan.

“Publik tak pernah tahu seberapa keras kalian bekerja selama perlombaan, pun tak peduli. Yang mereka tahu, pemenang adalah siapa saja yang berdiri tegap di podium juara. Pula, Jakarta bukan pengiring pemenang, tapi harus keluar sebagai pemenang!.” Satu diantara beberapa SMS dari Wahyudi Hidayat ini dibacakan kepada seluruh tim untuk membakar semangat mereka.

Etape kedua Tds kali lebih panjang dari etape sebelumnya. Jarak sejauh 154,18 Km, melewati rute Siak menuju Perawang, dua kali pulang-pergi. Terdapat sebuah jembatan lumayan menanjak yang bisa dijadikan lokasi pecah dari rombongan, dan melebarkan jeda waktu, yaitu Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah (TASL). Jembatan TASL tak hanya dilewati sekali di etape ini, tapi empat kali. Dua kali di putaran pertama pulang-pergi, dan dua kali lagi di putaran kedua.

Seluruh tim tampak bermain aman sepanjang 100 kilometer pertama. Tak ada pebalap yang melarikan diri dari rombongan. Bila pun ada, mereka tak mampu bertahan lama. Paling hanya beberapa ratus meter, sebelum kembali tertangkap. Pada 50 kilometer terakhir, Ryan menemukan celah melarikan diri dari rombongan. Tak hanya sendiri, dia diikuti seorang pebalap dari Tim Nasional Thailand bernomor 62, Kritsada Changpad.

Changpad, kelahiran 1991 , berpuluh kilometer membuntuti Ryan. Sesekali memimpin di depan, bergantian memecah angin. Ketika tim Thailand terlambat memberikan supply, Ryan tak segan memberikan cadangan minum dan makanannya kepada Changpad.

Itulah kerjasama yang terjadi di tengah perlombaan, dan jarang diketahui publik. Situasi ini telah menjadi rahasia umum di dunia balap sepeda, dengan lawan pun bekerja sama, karena tak mungkin melaju sendirian. Berdua akan lebih ringan, apalagi ramai bersama rombongan.

Mereka berdua semakin lama semakin jauh meninggalkan rombongan besar. Di belakangnya, dimotori Hari Fitrianto dari CCN-Brunei, bersama delapan pebalap lain mengejar ketat, memperpendek jarak terhadap Ryan.

Kurang dari 10 kilometer terakhir, sembilan pebalap berhasil menyatukan diri dengan Ryan. Changpad kehabisan tenaga, dan jauh tertinggal di belakang. Posisinya di rombongan terdepan kini digantikan rekan satu timnya, Setthawut Yordsuwan.

Ryan dan Hari pada Sea Games 2011 lalu memperkuat tim Indonesia dan berhasil menyumbangkan perak pada kelas Team Time Trial. Keduanya tengah digodok di barak pelatnas, disiapkan untuk Sea Games 2013, dan kini, kembali, mereka berdua bekerja sama memimpin lainnya dengan jeda waktu hanya 10 detik di depan dengan kecepatan rata-rata 42,87 kilometer per jam.

Mereka dikejar oleh delapan pebalap lain, diantaranya: Eddy Holland, Stephen Hall, Chelly Aristya, Heksa Priya, Tonton, Jawad, dan Setthawut. Sementara itu, rombongan besar jauh tertinggal empat menit di belakang, termasuk sisa empat anggota tim Jakarta, juga Changpad yang semula berada tepat di belakang Ryan, serta Projo Waseso, pemegang jersey kuning di etape sebelumnya

Empat pebalap jakarta, Aiman, Rully, Rochmat, dan Iman bertugas menjaga baris belakang agar tak terlalu merangsek ke depan.

Menjelang garis finish, Ryan dan Hari semakin percaya diri, menghabiskan cadangan tenaga yang ada. Beberapa meter sebelum menyentuh garis, Ryan dengan percaya diri menasbihkan dirinya sebagai juara, meluapkan kegembiaraan, sementara Hari tepat di belakangnya.

“Menurut Hari, dia telah kehabisan tenaga,” kata Ryan. Sebaliknya, dengan sesama tim pelatnas, masih terdapat jiwa korsa yang kental di antara mereka berdua. Hari cukup sportif dengan tak menyalip Ryan, karena dia tahu benar, Ryan yang lebih banyak bekerja, dan layak keluar sebagai juara. Ini sportifitas murni yang masih sangat kental dipegang para pebalap profesional.

Di Etape kedua TdS, akhirnya Ryan berhasil keluar sebagai pemenang. Dengan jeda waktu lebih dari empat menit dari rombongan besar, tapi hanya 10 detik saja dari sembilan pebalap lain. Bahaya!

Dengan hasil seperti itu, Dia juga berhasil merebut jersey kuning dan Merah Putih dari tangan Projo Waseso yang tertinggal sejauh empat menit, 58 detik. Tak hanya dua jersey kebanggaan, Ryan juga berhasil mendapatkan 5 poin dari Intermediate Sprint kedua, di kilometer 104, 24. Terpaut satu poin di bawah Fatahillah Abdullah.

Senyum tergores di di seluruh muka tim Jakarta, juga haru. Semua saling berpelukan, dan air mata menetes dari sudut mata masing-masing pebalap. Perlombaan belum selesai, masih ada satu etape yang harus diperjuangkan mati-matian untuk mempertahankan posisi bergengsi, Jersey kuning, dan jersey Merah Putih.

Tour de Siak 2013

Etape III, Bunuh Diri Masal Bila Perlu!

Berhasil merebut dua jersey sekaligus pada etape sebelumnya merupakan kebanggaan, tapi sekaligus membahayakan. Terlebih, hanya lima detik akumulasi waktu terpaut antara Ryan dan Hari, serta belasan detik dari pebalap lain. Belum lagi tim UBK yang sudah pasti akan ngotot mempertahankan jersey hijau, sebagai legitimasi sprinter tercepat.

Malam sebelum start, tim Jakarta telah sepakat menggunakan cara apa pun untuk mempertahankan jersey kuning dan Merah Putih. Di kalangan atlet balap sepeda, terdapat kebanggaan tersendiri bila rekan satu timnya menggunakan jersey ini. Selain itu, mengawal dan mempertahankannya sudah merupakan kewajiban, pula kehormatan. Ini tak berlebihan, ditegaskan oleh Rully, “Saya baru kali pertama mengawal jersey kuning, senang sekali. Sebelumnya, biasanya saya hanya meraih jersey hijau, atau mengawalnya”

Bagi Hari Fitrianto, dari club CCN Brunei Darussalam, dia hanya memerlukan waktu lebih cepat lima detik dari Ryan jika hendak merebut jersey kuning, sekaligus jersey Merah Putih. Bagi Eddy Holland, cukup 19 detik.

Di etape ketiga sekaligus etape terakhir TdS kali ini, Hari memainkan dua mata pisau sekaligus. Dia berpeluang merebut jersey kebanggaan, sekaligus menjadi motor penggerak timnya untuk mempertahankan predikat kualifikasi tim tercepat. Hadiahnya lumayan, Rp50 juta.

Kualifikasi waktu bagi tim, dihitung dari tiga pebalap di depan, namun menggunakan standar waktu pebalap paling belakang dari ketiga pebalap tersebut.

Rute sepanjang Siak menuju Perawang sejauh 182,12 Km merupakan etape terberat. Tak hanya didominasi jalanan datar seperti dua etape sebelumnya, tapi juga naik-turun perbukitan, serta mendaki dua jembatan yang masing-masing dilewati sebanyak dua kali. Jembatan tersebut adalah Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah (TASL), dan Jembatan Sultan Syarif Hasyim (SSH).

Baik TASL maupun SSH memiliki kontruksi megah, dan dikelilingi pemandangan cantik. SSH tak sepanjang TASL, tapi memiliki tingkat lengkungan lebih curam dibanding TASL. Rute panjang, naik-turun perbukitan, udara panas khatulistiwa, para sprinter yang pada dua etape sebelumnya mendominasi akan lebih kewalahan di sini. Seluruh pebalap juga tak akan tinggal diam. Mereka dipastikan akan habishabisan memperbaiki posisinya.

Baru sepuluh menit usai nol kilometer (real start) di depan Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Fatahillah Abdullah langsung melejit keluar dari rombongan. Sayang, posisinya memimpin tak bertahan lama, dan langsung bisa terkejar. Delapan pebalap kemudian cukup lama memimpin dengan jeda waktu lebih dari satu menit, namun kembali terkejar.

Selanjutnya, meski kendaraan kami berada paling depan iring-iringan kendaraan tim, tetap tak mampu mengikuti keseluruhan ‘perang’, karena alat komunikasi, radio tour mendadak tak bersuara. Ketiadaan informasi dari radio tour, seluruh tim otomatis kesulitan memantau para pebalap mereka di depan. Kapan mereka perlu tambahan makan dan minum, siapa pebalap terdepan, siapa melakukan serangan, dan lain-lain.

Untungnya, jajaran commissaire (wasit) yang dipimpin Jamaludin Mahmood ini sigap. Cara manual digunakan, dan aktif mondar-mandir memberikan informasi ke tiap tim. Cara ini memang tak efisien dilakukan di tengah perkembangan kecanggihan teknologi komunikasi, namun cukup efektif.

Radio tour mendadak tak bersuara pada 10 kilometer selepas start, dan kembali bersuara pada 10 kilometer terakhir menjelang finish. Sayang disayang, padahal kami berupaya terus mengabarkan secara langsung melalui kanal jejaring media sosial @SeAtsJkt, dan diteruskan oleh kawan-kawan ‘seperjuangan’, seperti @CustomsCycling, dan lain-lain.

Informasi yang disampaikan melalui kanal tersebut memang singkat, padat, namun amat ditunggu para penikmat balap sepeda di seluruh dunia, atau minimal kawasan Asia Tenggara, karena tak ada satu pun media konvensional yang menyiarkan secara langsung jalannya TdS.

*

Kembali ke suasana perlombaan.

Sepintas, situasi balapan sepanjang 180 Km berlangsung membosankan. Seluruh pebalap berada pada rombongan besar sejak awal hingga akhir. Hanya beberapa sprinter yang melarikan diri dari rombongan, itu pun demi mengamankan poin jersey hijau di dua kali intermediate sprint (IS). IS pertama pada 94,14 Km dimenangkan oleh Projo Waseso, dan IS kedua di 147 Km berhasil diraih oleh Fatahillah Abdullah. Dengan demikian, posisi jersey hijau telah berhasil Dia amankan.

Habis-habisan di IS kedua, Fatahillah mengalami kram, namun berhasil mencapai garis finish meski di urutan paling belakang, dipandu rekan satu timnya, Herwin Jaya.

Beramai-ramai selama perjalanan, sudah bisa ditebak, bahwa situasi di garis finish akan sangat seru. Rombongan sprinter akan meledakkan cadangan laktat mereka habis-habisan.

Benar saja, area finish yang makin menyempit karena beberapa rekan awak media dan penonton menyeruak terlalu jauh dari garis yang ditentukan, turun andil menjadi penyebab kekacauan. Akibatnya, terjadi kecelakaan lumayan fatal yang mengakibatkan delapan pebalap harus mendapat perawatan, kerusakan sepeda diderita banyak pebalap, belum lagi ‘senjata’ awak media yang rusak karena tertabrak.

Aiman Cahyadi menjelaskan mengenai situasi perlombaan yang tampak membosankan di etape terakhir. “Kondisi ini emang kami sengaja. Saya, Rully, Rochmad, dan Iman mengatur ritme rombongan besar agar tak satu pun dari mereka yang melarikan diri. Kalau pun ada, tak terlalu jauh jeda waktunya, sehingga jersey bisa kami amankan”

Penjelasan Aiman bisa diamini kebenarannya. Tarik menarik dengan kecepatan rata-rata 42,56 kilometer per jam sejauh 182,12 Km hanya terjadi di rombongan besar.

Lima kilometer menjelang garis finish, Thurakit dari tim nasional Thailand berhasil meninggalkan rombongan besar. Melaju sendirian, dia mampu memacu sepedanya sejauh 30 detik di depan. Atas perjuangannya ini, Thurakit berhasil memenangi etape ketiga TdS, namun catatan waktunya tak cukup untuk merebut jersey kuning dari cengkraman Ryan.

Atas perjuangan semua, Ryan Ariehaan, mewakili Pengprov ISSI Jakarta berhasil membawa pulang dua jersey sekaligus, yaitu jersey kuning dan jersey Merah Putih. Lainnya, Aiman, Rully, Iman, dan Rochmad, rela ‘bunuh diri’ tak mendapatkan predikat apapun di TdS demi membantu Ryan mempertahankan jersey kuning. Legitimasi tertinggi balap sepeda jalan raya.

Jakarta, Indonesia, ini untuk-Mu.

***

Ditulis oleh: Inu Febiana, @IFnubia

Tour de Siak 2013

Advertisements

One response to “Tour de Siak 2013

  1. Pingback: DKI Di PON 2016: MENANG! MENANG! MENANG! | ISSI Jakarta·

Comments are closed.